DANELSPACE

Media berbagi Tips, Info Menarik dan Seputar Pengalaman Hidup.

Showing posts with label Oil & Gas. Show all posts
Showing posts with label Oil & Gas. Show all posts

Belajar Sedikit Menganai PACKER

Yuk Kita Simak Apa Itu PACKER di dalam industri migas...
#EnergiBersih #Energibaik #oilandgas #INDUSTRIMIGAS




Kata Packer mungkin tidak asing bagi orang-orang yang bekerja dilingkungan Minyak Bumi yang kegunaannya adalah untuk mengisolate Interval atau digunakan untuk pekerjaan Swabbing. 


Baiklah agar lebih jelasnya lagi kali ini saya akan memposting tentang Penggunaan Packer sebagai mana yang sering dilakukan di lokasi-lokasi minyak dalam pekerjaannya. silahkan anda baca postingan berikut ini.
Filosofi Packer
Pengertian Packer : dalam industri perminyakan & gas bumi berarti bahan / materi / alat yang di set untuk menciptakan kondisi pembatas (sealing) antara tubing dengan casing, drill pipe dengan casing atau dalam open hole sebagai pengisolasi area formasi tertentu.
Alasan Utama Penggunaan Packer
  1. Proteksi casing, Packer mengisolasi dan melindungi casing dari fluida sumur yang korosif dan tekanan tinggi.
  2. Safety, Packer membatasi area tekanan yang bekerja (well control), dari tekanan pada area diameter casing menjadi tekanan hanya pada sekitar diameter tubing.
  3. Konservasi energi, Packer mengalirkan seluruh fluida reservoar melalui tubing, dimana gas dan minyak menyatu sehingga menyebabkan daya angkat (memanfaatkan tekanan gas) dalam kecepatan yang tinggi, packer juga dapat membatasi zona- zona produksi sehingga dapat mencegah kehilangan / kerusakan reservoar sumber fluida tersebut
  4. Kondisi operasional, Terkait dengan alasan operasional penggunaan packer antara lain : alasan produksi (gas lift / hyd pump) dimana dibutuhkan volume annular tertentu yang terbentuk oleh packer, tubing dan casing, alasan cementing,  acidizing dsb... (WO & WS)

Jenis & Karateristik Packer

1. 
Menurut konsep, fisik & konstruksi packer.

    A. Cup type packer

Adalah bentuk paling standard dari packer, dimana seal berbentuk cup yang bisa menahan tekanan dari 1 arah atau 2 arah bersamaan.
    B. Tension packer (slip/jay – slot combination)
Packer yang diset dengan tension, tubing ditarik dengan besaran over pull tertentu yang akan menyebabkan rubber packing mengembang / pack off terhadap casing.
    C. Solid – head compression packer
Packer yang diset dengan kompressi, tubing ditekan dengan besaran tertentu yang akan menyebabkan rubber packing mengembang / pack off terhadap casing.
    D. Isolation packer
 


















Packer yang diset dengan tujuan isolasi yang ditunjukkan dengan adanya pipa / tubing anchor yang menerus kebawah packer untuk kemudian dikoneksikan dengan packer yang lain.

    E. Control head compression packer
Packer yang menggunakan valve pada control head compression yang bertujuan untuk menanggulangi masalah - masalah pressure dan memungkiannya tubing di cabut tanpa harus release packer.
    F. Treating compression packer
Packer yang diset dengan fitur tertentu dimana pada tipe ini terdapat kemampuan packer untuk menahan pressure dari bawah tanpa bergantung pada berat tubing.
   G. Mechanically set dual slip packer
Packer yang diset ketika berat tubing tidak mencukupi untuk set packer akibat titik set packer yang lebih tinggi sehingga tidak ada tubing di bawah packer, dimana dilengkapi slip diatas dan dibawah packer yang memungkinkan menahan pressure dari dua arah.
   H. Hydraulic packer by tubing pressure

Packer yang diset dengan memanfaatkan tekanan dari dalam tubing dengan dibantu plug / bola sehingga tekanan akan melalui setting port kemudian menekan piston.
   I. Retrievable, permanent packer / drillable
Packer yang juga dilengkapi dengan dua slip diatas dan dibawah, pengesetannya bisa secara mekanik, hidrolik bahkan wire line. Biasanya pada bagian atas terdapat check valve untuk menahan pressure dari bawah dan bisa diset dengan stinger pipe / tubing.

2. Menurut cara kerja (mekanik, hydrolik & Permanent).
A. Packer Mekanik
Peralatan ini disekatkan dengan cara memutarkan tubing dan sering disebut sebagai “Hook Wall Packers” Terdiri atas 3 tipe yaitu :
  • Weight set packer
  • Tension set packer
  • Packer dengan slip berlawanan arah

Weight set packers 

Disekatkan dengan jalan membuka slipnya dari posisi tertutup sewaktu masuk lubang dan memberikan beban rangkaian tubing pada packer. Beban yang diterima packer menyebabkan slip menggigit dinding casing dan beban selanjutnya mengembangkan karet packer hingga menyekat annulus diatas packer dan dibawah packer. Slip yang menggigit dinding casing melindungi packer agar tidak bergerak kebawah sewaktu memperoleh beban dari rangkaian (lihat gambar III-1) Untuk melepaskan packer ini, dilakukan dengan cara memutar rangkaian tubing berlawanan arah dari sewaktu menyekatkan packer, lalu memberikan tarikan sambil terus diputar hingga packer terlepas.

Tension set packers
Dipasang dengan cara melepas/membuka slip supaya menggigit dinding casing, untuk kemudian memberikan gaya tarikan dengan cara mengangkat rangkaian tubing secara perlahan-lahan. Slip yang menggigit dinding casing akan menjaga agar sewaktu memberikan tarikan pada rangkaian tubing, packer tidak akan bergerak keatas. Tarikan selanjutnya akan mengembangkan karet penyekat yang akan menyekat/memisahkan annulus diatas packer dan dibawah packer. (lihat III-2). Untuk melepas packer digunakan cara yang sederhana yaitu dengan cara mengendorkan rangkaian tubing.
Packer yang menggunakan slip yang kedudukannya
berlawanan ini, bekerja dengan cara memutar rangkaian searah jarum jam. Sewaktu menyekat, slip-slip dan karet packer secara mekanis akan bekerja. Untuk melepas packer jenis ini digunakan cara yang sama seperti sewaktu menyekatkan packer ini.

B. Packer Hidrolik
Hydraulic set packer disekatkan dengan cara memberikan tekanan hidraulik untuk menekan penyekat (cover = tutup) dibalik slip. Begitu disekat, packer terkunci oleh tekanan yang terperangkap disekitarnya atau pengunci mekanis. Umumnya, peralatan pengunci mekanis digunakan. Packer tersebut dapat dilepas dengan mengangkat tubing disertai dengan memutarnya searah jarum jam.

C. Packer permanen
Alat ini dapat disekatkan dengan berbagai cara yaitu: dengan bantuan electric wireline, drill pipe ataupun tubing. Slip-slip yang saling berlawanan terletak diatas dan dibawah dari karet (packing) untuk menahan packer pada kedudukannya yang benar. Setelah posisi terpasang packer ini tak akan bergeser dari kedudukannya.
3. Menurut metode instalasi ; tubing / DP, wire line, Integrated packer (liner hanger, whipstock dsb).
A. Tubing / Drill pipe running
Tubing atau drill pipe yang dikoneksikan ke Packer yang kemudian dihantar menuju titik kedalaman set dengan aplikasi mekanik ataupun hidrolik.

Beberapa tipe retrivable packer yang di running menggunakan Tubing / DP
Beberapa tipe retrivable packer yang di running menggunakan Tubing / DP
















B. Wire line running
Wire line running packer umumnya digunakan pada packer tipe permanent atau drillable misalkan Bridge plug, cement retainer dsb. Dengan menggunakan aliran elektrik pada wire line yang digunakan untuk pemicu explosive yang kemudian akan menekan piston secara kejut.
Beberapa tipe bridge plug (packer) yang di running dan di set menggunakan Wire line

C. Running tool
Pada running tools khususnya untuk liner hanger, packer adalah bagian yang terintegrasi untuk menahan jika ada tekanan dari annulus maupun untuk membatasi semen pada saat cementing liner hanger. Umumnya packer diset dengan menggunakan pressure (hydrolik)

Integrated packer

Sebagai mana yang dijelaskan diatas bahwa kegunaan Packer sangat banyak diantaranya untuk Isolate, Swabbing, ijectivity dll serta mengenai jenis-jenis Packer yang beraneka ragam yang memiliki fungsi yang sama. Mungkin sedikit postingan diatas dapat memberikan bayangan mengenai jenis Packer dan kegunaannya.

Sumber: Aneka Ragam
Read More...

Faktor yang mempengaruhi harga minyak


Anjloknya harga minyak dunia belakangan ini membuat banyak perusahaan migas yang mengalami kerugian. sangat menarik untuk kita mengetahui apa saja yang mempengaruhi harga Minyak Dunia.
Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi harga minyak dunia:

1. OPEC

Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) merupakan kartel minyak yang didirikan di Baghdad, Irak, pada tahun 1960 dan kini berkantor pusat di Wina, Austria. Per 2014, anggota OPEC terdiri atas: Aljazair, Angola, Ekuador, Iran, Irak, Kuwait, Libya, Nigeria, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Venezuela.

OPEC memegang posisi penting sebagai kartel yang berperan mempengaruhi sisi suplai dalam perdagangan minyak dunia. Meski produksi minyak negara-negara OPEC meliputi kurang dari 50% total produksi minyak dunia, tetapi posisi bersatu mereka sebagai kartel memperkuat kedudukan secara kolektif dibanding negara-negara produsen minyak non-OPEC yang bertindak secara terpisah.
Hasilnya, rapat-rapat OPEC dan komentar-komentar yang dikeluarkan oleh para petingginya menjadi faktor yang bisa memicu perubahan harga minyak. Perubahan kapasitas produksi setiap negara, berikut konflik geopolitik yang kadang-kadang menerpa, menjadi faktor-faktor yang bermain dalam pembentukan tren harga minyak dunia.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

Anggota

Afrika

Asia

  •  Arab Saudi (negara pendiri, September 1960)
  •  Iran (negara pendiri, September 1969)
  •  Irak (negara pendiri, September 1960)
  •  Kuwait (negara pendiri, September 1960)
  •  Qatar (Desember 1961)
  •  Uni Emirat Arab (November 1967)

Amerika Selatan

  •  Ekuador (1973–1993, kembali menjadi anggota sejak tahun 2007)
  •  Venezuela (negara pendiri, September 1960)

Anggota yang keluar

  •  Gabon (keanggotaan penuh dari 1975–1995)

Anggota Suspen

  •  Indonesia (anggota dari Desember 1962–Mei 2008)
Pada Mei 2008, Indonesia mengumumkan bahwa mereka telah mengajukan surat untuk keluar dari OPEC pada akhir 2008 mengingat Indonesia kini telah menjadi importir minyak (sejak 2003) atau net importer dan tidak mampu memenuhi kuota produksi yang telah ditetapkan. Tetapi setelah dilakukan rapat, Indonesia hanya di suspen dari keanggotaan OPEC

Kemungkinan jadi anggota

  •  Suriah,  Sudan, dan  Bolivia (ketiga negara ini sudah diundang oleh OPEC untuk bergabung)
  •  Brasil (ingin bergabung setelah ditemukan cadangan minyak yang besar di Atlantik)
 Sumber: Wikipedia
------------------------------------------------------------------------------------------------------------

2. Situasi Negara-Negara Produsen Minyak

Berdasarkan uraian di poin pertama, jelas bahwa sebagian besar minyak dunia bukan diproduksi oleh OPEC, melainkan negara-negara non-OPEC. Sepuluh produsen minyak terbesar dunia per estimasi tahun 2014 berturut-turut adalah:
  • Rusia,
  • Arab Saudi,
  • Amerika Serikat,
  • China,
  • Kanada,
  • Irak,
  • Iran,
  • Meksiko,
  • Venezuela,
  • Uni Emirat Arab.
Jelas bisa dilihat bahwa dari 10 besar, hanya lima yang menjadi anggota OPEC dan hanya empat yang berlokasi di Timur Tengah. Pun, produsen minyak terbesar Rusia dan peringkat ketiga Amerika Serikat, bukanlah bagian dari kedua kelompok tersebut. Karenanya, perlu dipahami bahwa "situasi negara-negara produsen minyak dunia" tidak hanya meliputi situasi negara-negara OPEC atau negara-negara Timur Tengah saja. Pada tahun 2014 lalu, misalnya, harga minyak sempat goncang setelah konflik antara Rusia dan Ukraina pecah.
Namun demikian, 62% persediaan minyak Dunia ada di Timur Tengah dan berpusat di lima negara: Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Irak, dan Kuwait. Tidak semua negara tersebut berproduksi secara maksimal, karena maraknya konflik dan sanksi ekonomi. Dari sini dapat disimpulkan bahwa perbaikan kondisi politik dan keamanan di Timur Tengah memiliki kemampuan besar untuk meningkatkan suplai minyak dan mendorong harga minyak turun; sedangkan meningkatnya ketegangan bisa membuat pasar kuatir suplai berkurang sehingga mendorong harga minyak naik.

3. Perusahaan Minyak

Dalam perdagangan yang sudah terglobalisasi, maka perdagangan suatu komoditas tidak hanya bergantung pada komoditas itu, melainkan juga perusahaan yang berperan dalam produksi dan distribusinya. Salah satu langkah perusahaan minyak yang jelas berpengaruh pada harga minyak dunia adalah yang terkait dengan simpanan (inventory) dan pemboran (oil drilling).
Saat ini, suplai minyak dunia adalah sekitar 1-2 juta barel lebih besar dibanding permintaannya. Nah, karena tidak terserap oleh konsumsi, maka kelebihan itu harus disimpan di suatu tempat. Alokasi minyak ke penyimpanan ini akrab disebut dengan istilah inventory. Kelebihan minyak akan disimpan di inventory sebagai persiapan ketika suatu saat kelak produksi menurun, atau permintaan meningkat. Masalahnya, tempat yang tersedia terbatas. Karena itu, maka semakin tinggi jumlah inventory, semakin besar pula kemungkinan harga minyak dunia akan jatuh gara-gara minyak yang tak muat di inventory jadi melimpah ke pasar.
Strategi yang diterapkan perusahaan minyak dalam produksi juga akan berpengaruh besar pada tren harga minyak dunia. Ambil contoh penggunaan teknik fracking untuk mengeksplorasi minyak shale di AS dan praktek "fracklog" ("menyimpan minyak" di lokasi eksplorasi) yang berpotensi melemahkan harga minyak dunia akibat melimpahnya produksi dan inventory.
Tak kalah berpengaruh juga adalah kondisi perusahaan-perusahaan di dalam industri itu sendiri. Katakanlah terjadi kebangkrutan massal akibat harga minyak dunia kelewat murah, maka itu secara otomatis akan memangkas suplai dan membuat harga meningkat.

4. Permintaan Minyak Global

Sebagai salah satu jenis komoditas yang diperdagangkan di tingkat internasional, harga minyak dunia juga dipengaruhi oleh kuat-lemahnya permintaan (demand). Tetapi bagaimana mengukur permintaan global? Adakah yang menyediakan data tersebut? Mengukur secara pasti dan menghasilkan angka-angka tertentu jelas tidak memungkinkan. Meski begitu, para analis bisa membuat estimasi berdasarkan beberapa faktor yang membentuk permintaan minyak dunia.



Diantara faktor-faktor tersebut ada tingkat industrialisasi, pertumbuhan ekonomi dunia, penjualan kendaraan bermotor, dan lain-lain. Tak berlebihan jika dikatakan bahwa penggunaan minyak sebagai sumber energi utama dunia didorong oleh industrialisasi. Semakin banyak industri di suatu negara, semakin besar pula sumber energi yang dibutuhkannya. Dalam konteks yang sama, pertumbuhan ekonomi juga akan mendorong meningkatnya permintaan minyak. Sebaliknya, apabila ekonomi dunia melambat, maka permintaan minyak akan turun, seperti yang telah terjadi pada paruh kedua tahun 2014.
Ini bisa dipahami dengan mudah melalui satu contoh: penjualan kendaraan bermotor. Setelah industrialisasi terjadi dan ketika pertumbuhan ekonomi bagus, penjualan kendaraan bermotor tentunya akan terus meningkat. Padahal penggunaan kendaraan bermotor saat ini sebagian besar masih membutuhkan bahan bakar minyak. Jika hal ini terjadi, maka tentunya harga minyak dunia akan naik bersama dengan peningkatan permintaan.

5. Perkembangan Teknologi dan Penemuan Baru

Penemuan-penemuan baru terkait eksplorasi minyak, seperti pengembangan metode fracking untuk mendapatkan minyak Shale akan cenderung menurunkan harga minyak. Begitu pula penemuan lokasi cadangan minyak baru serta perluasan eksplorasi minyak oleh perusahaan-perusahaan minyak multinasional. Ini karena penemuan-penemuan baru semacam ini membuka peluang untuk meningkatnya suplai minyak di masa depan.
Dalam hal ini, pengembangan teknologi baru yang memungkinkan biaya eksplorasi, biaya produksi, dan biaya distribusi lebih murah, juga akan membuat harga minyak dunia jadi lebih rendah. Ini khususnya bila praktek-praktek tersebut tersebar luas diaplikasikan oleh perusahaan-perusahaan minyak.
Termasuk dalam kategori ini juga, penelitian-penelitian biofuel dan bahan-bahan lain yang berpotensi menjadi substitusi minyak bumi sebagai sumber energi utama Dunia akan mendorong harga minyak makin rendah karena permintaan minyak masa depan diproyeksikan berkurang.

Secara umum, harga minyak dunia sebagai komoditas ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Faktor-faktor yang mempengaruhi kedua hal itu akan mempengaruhi harga minyak dunia, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Meski faktor-faktor tersebut tidak bisa diukur dengan mudah karena pasar yang jelas global dan banyaknya ketidakpastian, tetapi estimasi bisa dilakukan dengan mengobservasi perkembangan terkini. Selain itu, perlu dicatat juga bahwa pasar yang seperti itu rentan spekulan dan permainan harga.

Sumber: seputarforex.com
Read More...

Greenpeace memprotes pengeboran minyak di Kutub Utara

Greenpeace memprotes pengeboran minyak di Kutub Utara

Tim aktivis meyiapkan perbekalan untuk beberapa hari memperjuangkan Kutub Utara dari pengeboran minyak.

Greenpeace Tolak Pengeboran Minyak di Kutub Utara
Akivis Greenpeace memasang banner "No Arctic Oil" (Tak Ada Pengeboran Minyak di Kutub Utara) pada sebuah pesawat tanker minyak Rusia (Reuters)
Enam aktivis Greenpeace memprotes pengeboran minyak di Kutub Utara dengan menduduki dek utama anjungan minyak yang berlayar ke wilayah tersebut.

Tim aktivis internasional itu memanjat anjungan Polar Pioneer, yang berasa di Samudera Pasifik, sekitar 1.200 kilometer di barat laut negara bagian Hawaii.

Greenpeace mengatakan keenam aktivis tersebut tidak akan mengganggu pelayaran atau pengoperasian kapal saat bergerak menuju Kutub Utara.

Para aktivis itu memiliki perbekalan untuk beberapa hari dan juga memiliki teknologi yang akan memungkinkan mereka berkomunikasi dengan para pendukung perjuangan mereka.

Banyak ahli lingkungan menentang eksplorasi energi di Kutub Utara, dengan alasan tumpahan minyak pada saat pengiriman akan sangat sulit untuk dibersihkan di daerah terpencil dengan kondisi laut yang buruk, dingin dan beku.

(voaindonesia.com)
Read More...

WELL TESTING

WELL TESTING

WELL TESTING
SITEM PERHITUNGAN PRODUKSI SUMUR MINYAK DI ONSHORE

Suatu sumur minyak yang umum disebut  Oil Well atau Producing Well, setelah pengeboran selesai dan dilengkapi dengan segala perlengkapannya, perlu diketahui apakah hasil produksinya sesuai dengan yang diharapkan.
Sumur produksi  yang sudah dihidupkan dan berproduksi sekian lama perlu juga diketahui apakah masih effisien dan efektif untuk diproduksikan, agar faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat produksi dapat diketahui dengan cepat dan diambil langkah-langkah yang tepat, maka harus dilakukan pengujian terhadap sumur yang bersangkutan.
Well Testing merupakan cara yang dapat dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, sehingga sejarah dan kelangsungan produksi suatu sumur dapat dijadikan sebagai data-data yang dibutuhkan untuk mengetahui keadaan sumur, formasi dari sumur atau sumur di sekitarnya, maka perlu dilakukan beberapa jenis tes, misalnya tes produksi, tes tekanan transient serta jenis tes yang lain sesuai dengan kebutuhan.
            Pengetesan juga ditentukan atau dipilih sesuai dengan urutan prioritas sebagai berikut;
  • Spesial permintaan
  • Sumur baru
  • Sesudah dilakukan perawatan, stimulasi atau workover
  • Setelah pemasangan pompa (pump-down)
  • Setelah penggantian Stroke per menit, panjang langkah atau Pumping Unit.
  • Test regular
  • Test Verifikasi
Operator produksi, gathering station/test station, pumper di lokasi dan well tester melakukan pengetesan sesuai permintaan, umumnya tes produksi sumur dan melaporkan hasilnya.

            Data well testing sumur produksi sangat penting bagi para ahli perminyakan (engineer atau production analyst) untuk analisa sumur produksi. Dari analisa diperoleh 4(empat) kemungkinan tidak stabilnya produksi sumur  yaitu:

1.     Kerusakan peralatan produksi dan well testing facility
2.     Kenaikan viskositas minyak
3.     Penurunan permeabilitas minyak
4.     Penurunan tekanan reservoir

·         Kerusakan peralatan produksi dan well testing facility

Peralatan produksi dan well testing facility sering terganggu dengan adanya pasir, parafin, dan terbentuknya scale serta corrosion sehingga aliran fluida tertahan dan berkurang. Bisa juga pengurangan ini disebabkan peralatan instrumentasi mengalami kerusakan atau komponen artificial lift rusak (tidak bekerja maksimal). Untuk mengembalikan kestabilan produksi peralatan yang rusak harus diperbaiki atau diganti.

·         Kenaikan viskositas minyak

Viskositas atau kekentalan minyak dipengaruhi oleh temperatur dan tekanan. Temperatur dan tekanan berkurang viskositas minyak naik. Viskositas minyak dapat juga naik karena gas yang terlarut dalam minyak sudah banyak yang keluar, sehingga minyak akan susah untuk mengalir ke well bore (lubang sumur)  dan akhirnya terjadi penurunan produksi. Untuk menanggulangi masalah ini dilakukan technique antara lain; melakukan injeksi uap panas ke zona produktif. Dengan memberikan panas tersebut diharapkan viskositas turun dan minyak dapat mengalir dengan normal.

·         Penurunan permeabilitas minyak

Penurunan permeabilitas disebabkan kerusakan formasi produktif sekitar well bore. Kerusakan ini lebih dikenal dengan istilah formation damage. Formation damage ini dikarenakan padatan atau partikel menyumbat pori-pori lapisan batuan atau dikarenakan over pressure/over heat injection ke resorvoir sehingga terjadi runtuhnya formasi pasir dan akhirnya minyak tidak dapat mengalir. Untuk penanggulangan masalah ini dilakukan usaha antara lain: acidizing atau fracturing. Dengan dilakukan kedua cara di atas diharapkan minyak mudah keluar dari zona produktif menuju well bore.

·         Penurunan tekanan reservoir

Dengan keluarnya fluida secara terus menerus dari reservoir akan ada ruangan yang kosong. Hal ini berdampak turunnya tekanan reservoir dengan cepat, akibatnya tekanan berkurang untuk mendorong fluida kedalam sumur. Salah satu cara yang populer untuk mengatasi hal ini dengan menginjeksikan air terproduksi ke reservoir melalui sumur injeksi atau sumur tua sebagai pengisi ruangan kosong tersebut.


Petroleum Engineer akan menganalisis “performance” dari sumur minyak yang bersangkutan berdasarkan hasil tes yang diprogramkan, selanjutnya dapat ditentukan apakah perlu dilakukan perubahan-perubahan, perawatan sumur, workover dan lain sebagainya. Sehingga produksi suatu sumur dapat berjalan semestinya dan menekan biaya seefisien mungkin dari hasil pemeliharaan sumur-sumur produksi. Disini jelas bahwa “Well Testing” merupakan bagian pekerjaan dari seksi produksi sehari-hari yang paling penting.
            Ketepatan dari hasil laporan tes suatu sumur sangat menentukan pengambilan keputusan dari Petroleum Engineer, untuk pemeliharaan dan pekerjaan suatu sumur agar mencapai sasaran yang diinginkan serta menghindari kerugian waktu, tenaga, biaya yang sia-sia dan produksi yang tertunda.
TES PRODUKSI
            Dalam melakukan tes produksi diperlukan unit tes produksi,  unit tes ini ada yang permanen seperti di SP dan ada yang mobil. Selain untuk tes pengujian juga berfungsi untuk memisahkan fluida produksi menjadi minyak, gas dan air, juga sebagai sarana penampung sementara produksi sebelum dikirim ke SPU.
Tes produksi dapat dilakukan secara manual dan menggunakan komputer, atau dioperasikan dari ruang kontrol untuk sumur-sumur yang dilengkapi dengan sarana tersebut.
            Cara manual dilakukan pada sumur-sumur yang hanya menggunakan perlengkapan secara mekanikal, di antaranya;
1.    Test Meter
            Meter berputar dengan adanya aliran fluida yang melewati meter dan mencatat volumenya dalam waktu yang ditentukan, bahkan dapat dilakukan selama 24 jam. Test meter ini dilengkapi dengan gas boot atau test separator untuk memisahkan gas dari cairan sebelum melalui test meter.Pemisahan ini perlu dilakukan agar kerja test meter tidak dipengaruhi oleh gas yang membuat meter bergerak dengan cepat, sehingga hasil produksi akan jauh lebih besar dari sebenarnya.

2.    Test Tank
            Penggunaan Test Tank adakalanya dilengkapi dengan gas boot atau tanpa gas boot, tergantung pada keadaan fluida dan fasilitas yang tersedia serta jauh dekatnya suatu sumur dari Test Station.

Test Tank ada dua macam yaitu:
a.     Permanent Test Tank, ada yang berada di dalam area Gathering Station,     Test Station dan Test Tank Pembantu yang ditempatkan di sekitar sumur          yang jauh dari Gathering Station dan Test Tank.

Prosedur Tes

1.    Pertama-tama yakinkan bahwa kran-kran yang terletak sesudah meter atau sebelum Wash Tank, pada test header dan pada inlet boot atau inlet separator sudah dalam keadaan terbuka.

2.    Periksa atau yakinkan bahwa tidak ada fluida dari sumur minyak lain yang masuk ke test line, dengan memperhatikan manifold header.

3.    Setelah yakin bahwa semuanya sudah menurut semestinya, buka kran jalur tes kira-kira ½ terbuka dan tutup kran yang ke jalur produksi.  Kemudian teruskan membuka kran jalur tes yang masih tertutup (menjadi terbuka sepenuhnya)

4.    Sesudah itu tunggu beberapa saat sampai meter berjalan dengan lancar.

5.    Bila test meter sudah berjalan dengan lancar, maka tes sudah bisa dimulai dengan mencatat jam dan angka yang ditunjukkan oleh meter tersebut.  Ukur level di tangki tes setelah normal/rata di dalam tangki untuk jam pertama pengukuran.

6.    Ukur tekanan dan temperatur tubing, melalui sample switch
7.    Awasi selama tes berlangsung jangan sampai terjadi fluid over flow.

8.    Sesuaikan lamanya tes dengan kapasitas tangki tes.

9.    Alirkan produksi sumur kembali ke jalur produksi

10. Pompakan fluida di dalam tangki tes  ke jalur produksi.

11. Buat laporan dan kirimkan ke Supervisor.

Contoh:
Test dimulai jam 08:00 angka pada meter = 194520
Lama pengetesan 3 jam (test ditutup jam 11:00) dengan angka pada meter = 194990.
Jadi hasil dalam 24 jam (1 hari)
                                    = 24/3 x (194990 – 194520)
                                    = 8 x 470 bbls
                                    = 3760 bbls

Jika meter faktor = 0.92, maka hasil sumur minyak tersebut
                                    = 3760 x 0.92
                                    = 3459.2 bbls

Contoh:
Test dimulai jam 10:00, level awal normal adalah 2’4”. Setelah 4 jam pengetesan, pada jam 14:00 level akhir adalah 5’2”.
Test tank yang digunakan ukuran 250 bbls dengan meter faktor 2.76 bbls/in.

Jadi hasil sumur minyak tersebut dalam 1 hari (24 jam) adalah        
                  = 24/4 x (5’2” – 2’4”) x 2.76
                                    = 6 x 34 in x 2.76 bbls/in
                                    = 563.4 bbls



KALKULASI METER FAKTOR
1.    Kurangi meter reading terakhir dg meter reading awal, kemudian tent  hasil kotor fluida.

2.    Kurangi uk. level tes akhir dg level tes awal kemudian tent selisihnya, dan dapatkan volumenya dalam barrel.

3.    Meter faktor dapat ditentukan, sbb :
                                               

Contoh:                                                                                                         
Produksi berdasarkan level           = 98 bbls
Produksi berdasarkan meter          = 81 bbls
                                                       
Berarti 1 counter      = 1.2 bbls

b.         Portable Test Tank, biasanya ukuran yang dipakai adalah 100 bbls dan ditarik dengan menggunakan trailer.

            Umumnya test tank ini digunakan untuk sumur yang produksinya sedikit, jaraknya jauh dan tidak mengandung banyak gas. Lama pengetesan terbatas untuk beberapa jam, tergantung besarnya produksi sumur yang dites.  Pengukuran volume produksi dengan menggunakan mistar ukuran atau meter bomb.

3.    Gabungan Test Meter dengan Test Tank

            Fasilitas ini biasanya berada di Gathering Station, dipergunakan untuk sumur yang produksinya besar, serta mengandung banyak gas. Sebelum masuk ke test meter terlebih dahulu melewati Gas Boot.
Bacaan dari meter akan dibandingkan dengan perbedaan level di dalam tanki pada selang waktu yang sama.  Pengambilan data-data test lainnya dilakukan secara manual.
Tes poduksi pada dasarnya mengukur volume produksi persatuan waktu produksi yang dapat dilakukan pada selang waktu pendek,misal diukur hanya selang 3 jam dan selanjutnya dikonversi menjadi produksi perhari, atau dilakukan selama sehari penuh. Volume produksi diukur tangki penampung dengan mencatat volume pada kondisi sebelum tes dan kondisi setelah tes berakhir, maka selisih volume merupakan hasil tes produksi.
PENGUKURAN VOLUME FLUIDA
Secara umum pengukuran volume minyak dalam penampung produksi dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara, yaitu INNAGE adalah mengukur tinggi cairan dalam tangki, dan ULLAGE/OUTAGE yaitu mengukur tinggi ruang kosong dalam tangki, jadi pada prinsipnya mengukur ketebalan lapisan minyak dalam tangki. Selain itu perlu juga dilakukan pengukuran parameter lain yang menunjang perhitungan volume minyak, yaitu: suhu, densitas, spesifik gravitas atau derajat API, dan BS&W.

Dalam pengukuran volume minyak ini juga perlu diketahui karakteristik minyak yang diproduksi, maka perlu dilakukan pekerjaan;
·         Pengukuran suhu minyak dalam tangki dengan termometer
·         Pengambilan contoh minyak dari tangki;
o   Pengukuran densitas minyak dengan hidrometer.
o   Pengukuran BS&W dengan centrifuge.
Di samping itu juga diperlukan tabel-tabel untuk keperluan koreksi-koreksi volume minyak dalam kondisi standar, yaitu;
1.    Tabel 53 ASTM D 1250 – IP 200, yang berhubungan dengan koreksi volume terhadap densitas pada kondisi standar, 15 oC.
2.    Tabel 54 ASTM, yang berhubungan dengan temperatur pengamatan dalam penentuan faktor koreksi terhadap volume minyak yang diukur.
3.    Kondisi tangki, misalnya angka koreksi tangki.
Text Box: Gambar 1.1
Pengukuran Tinggi Cairan Metoda Innage


Text Box: Gambar 1.2
Pengukuran Tinggi Cairan Metoda Outage

Berdasar gambar di atas, setelah dilakukan pengukuran tebal lapisan minyak, air bebas dan tebal cairan, maka volume minyak dapat dihitung sebagai berikut;
  • Volume minyak adalah hasil kali antara tebal minyak dengan faktor kalibrasi tangki, setiap satuan ketebalan minyak dalam tangki menyatakan volume.
  • Gunakan Tabel 53 ASTM, untuk menentukan densitas pada kondisi standar (15 oC) dari hasil pengamatan densitas di laboratorium pada kondisi suhu pengamatan.
  • Gunakan Tabel 54 ASTM, untuk menentukan faktor koreksi terhadap volume yang terukur berdasar harga densitas minyak standar hasil penentuan Tabel 53.
  • Kalikan factor koreksi volume dengan volume minyak terukur, sehingga diperoleh volume minyak pada kondisi standar.






Artikel Terkait :
LETAKKAN TULISAN SOBAT / APAPUN DISINI INI ADALAH CONTOH MEMBUAT SCROL BOX DIDALAM POSTINGAN
Read More...